Memulai sesuatu yang benar-benar baru tidak pernah terasa mudah. Rasa ragu, takut gagal, hingga bingung harus mulai dari mana sering menjadi tantangan pertama yang harus dihadapi. Hal itulah yang juga dirasakan oleh Kak Krisanti Bifel dari Desa Popnam, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, ketika mulai mencoba budidaya buncis di lahannya sendiri.
Sebelumnya, Kak Krisanti belum pernah menanam buncis. Semua proses budidaya terasa baru baginya. Namun, keinginan untuk belajar dan mencoba membuatnya tetap melangkah perlahan. Hari demi hari dihabiskan untuk memahami cara merawat tanaman, menjaga pertumbuhan tetap sehat, hingga memastikan tanaman mampu bertahan sampai masa panen.
“Awalnya saya belum tahu cara tanam buncis. Tapi saya pikir kalau tidak mulai mencoba, saya tidak akan pernah tahu hasilnya,” cerita Kak Krisanti.
Perjalanan tersebut tentu tidak selalu berjalan mulus. Ada proses panjang yang harus dijalani dengan sabar, mulai dari belajar mengenali kondisi tanaman hingga menyesuaikan perawatan di lapangan. Meski demikian, Kak Krisanti tetap bertahan dan terus belajar dari pengalaman yang dijalani setiap hari.
Usaha tersebut akhirnya mulai menunjukkan hasil pada panen kedua. Dari lahannya, Kak Krisanti berhasil mengumpulkan 131 kilogram buncis yang kemudian mulai dipasarkan ke MBG terdekat dengan harga Rp8.000 per kilogram. Hasil panen ini menjadi pengalaman berharga sekaligus membuka peluang tambahan penghasilan bagi dirinya dan keluarga.
Bagi Kak Krisanti, hasil panen ini bukan hanya tentang angka, tetapi juga tentang keberanian untuk memulai sesuatu yang sebelumnya terasa sulit dilakukan.
“Pelan-pelan saya mulai percaya diri karena ternyata saya juga bisa belajar dan menghasilkan dari kebun sendiri,” ujarnya.
Baca cerita lainnya di: Kegiatan Kami – Bina Tani Sejahtera