Daka Danu adalah kelompok tani yang beroperasi di Desa Pero, Kecamatan Wewewa Barat. Kelompok tani ini terdiri atas dua puluh orang anggota yang sudah menginjak usia paruh baya. Akan tetapi, usia mereka yang tidak lagi muda bukanlah penghalang bagi para petani untuk terus berkembang dan melanjutkan budidaya sayuran. Masyarakat Wewewa Barat memiliki keyakinan bahwa tanah merupakan sumber kehidupan yang kekal, sehingga harus terus mereka manfaatkan sebaik mungkin. Mayoritas dari anggota Daka Danu berasal dari latar belakang keluarga yang telah menjadi petani selama beberapa generasi. Sesuai dengan ajaran kepercayaan asli Sumba, mereka percaya bahwa menjadi petani adalah takdir pemberian Marapu.
Sebelum menekuni budidaya sayuran, anggota Kelompok Tani Daka Danu merupakan petani tembakau. Transisi mereka ke budidaya sayuran banyak terbantu oleh adanya program pendampingan dari Yayasan Bina Tani Sejahtera (YBTS) dan didukung oleh William Lily Foundation melalui program PERMATA (Peningkatan Mata Pencaharian Pertanian melalui Pendekatan Terpadu). Pada proses pendampingan ini, para petani mendapatkan materi dan praktik lapangan mengenai proses pertanian yang baik (Good Agricultural Practice / GAP) untuk budidaya sayuran. Kondisi cuaca ekstrem di Wewewa Barat, seperti curah hujan yang tinggi, menjadi tantangan tersendiri dalam melakukan budidaya sayuran, misalnya cabai. Dari 1.300 pohon yang ditanam, hanya 1.200 pohon cabai yang bertahan sampai waktu panen.
Terlepas dari tantangan yang ada, para petani memperoleh hasil panen yang memuaskan. Hal ini pun berdampak pada peningkatan keuntungan dari penjualan hasil panen. Salah satu anggota Daka Danu, Trimuliana Malo, menyatakan bahwa mereka bisa memperoleh sekitar delapan kilogram cabai yang dijual seharga Rp50.000 per kilogram. “Kami bisa memperoleh sekitar Rp500.000 – 600.000 per minggu,” ujarnya.
Keberhasilan ini memotivasi para anggota kelompok untuk terus melanjutkan usaha mereka dalam membudidayakan sayuran. Mereka pun memiliki tekad yang kuat untuk terus belajar dan membagikan pengetahuan yang mereka peroleh kepada petani di sekitar mereka. Para anggota kelompok ini percaya bahwa usia bukanlah penghalang bagi mereka untuk menjadi petani yang lebih baik lagi. “Meskipun usia kami tidak muda lagi, kami selalu merasa segar dan muda ketika di kebun,” ujar ketua Kelompok Tani Daka Danu, Mikael Malo Bill.
Kedepannya, para anggota berharap kegiatan pertanian ini dapat meningkatkan taraf perekonomian dan kualitas hidup masing-masing. “Kami berharap hasil dari kebun tidak hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan harian, tapi juga untuk menyekolahkan anak-anak kami,” ucap Naomi Milla, istri ketua kelompok tani Daka Danu. Semoga semangat para petani akan terus menyala seiring dengan berkembangnya industri pertanian di Wewewa Barat.