Kunjungan lapangan dilakukan di Sorong, Papua Barat Daya, sebagai bagian dari pelaksanaan program “Peningkatan Pendapatan dan Penghidupan Petani Kecil melalui Praktik Produksi Sayuran yang Menguntungkan di Papua” yang didukung oleh East-West Seed Knowledge Transfer (EWS-KT) dan Stichting De Eik. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Yayasan Bina Tani Sejahtera (YBTS) bersama Stuart Morris (Executive Director, East-West Seed Knowledge Transfer) dan Flip Van Koesveld (Board Advisor, East-West Seed Knowledge Transfer) untuk melihat langsung perkembangan program serta proses pembelajaran petani di lapangan.
Kunjungan ini juga dihadiri oleh Edwin S. Saragih (Ketua YBTS) dan Ellyda Chaterina Hutabarat sebagai (Asisten Manajer YBTS), bersama tim program yang selama ini mendampingi petani.

Selama kegiatan berlangsung, tim meninjau sejumlah demplot dan Learning Farm yang menjadi ruang pembelajaran bagi petani dalam menerapkan praktik budidaya sayuran yang lebih baik (Good Agricultural Practices/GAP). Dari lahan ke lahan, tim berdialog langsung dengan petani untuk melihat perkembangan sekaligus memahami tantangan yang dihadapi.

Hasilnya cukup menggembirakan. Melalui program ini, pemahaman petani terhadap budidaya sayuran semakin meningkat, diikuti motivasi yang lebih kuat untuk mengembangkan usaha tani mereka. Proses belajar ini juga mempertemukan petani asli Papua dan petani transmigran untuk saling berbagi pengalaman dan memperkuat satu sama lain.
Salah satu kisah datang dari Ahmad, seorang petani transmigran yang sebelumnya bekerja di sektor konstruksi dengan penghasilan sekitar Rp3.000.000 per bulan. Setelah menerapkan GAP dalam budidaya sayuran, hasil panennya meningkat hingga sekitar 80 persen dan kebunnya kini menjadi tempat belajar bagi petani lain.
Perubahan serupa juga dialami Yoppy, petani asli Papua yang sebelumnya mengandalkan tanaman pangan seperti pisang dan singkong. Setelah menanam sayuran seperti jagung manis, tomat, dan cabai keriting, pendapatan keluarganya meningkat hampir dua kali lipat. Ia pun mulai mengajak petani lain untuk belajar bersama.
Seperti yang disampaikan oleh istri Yoppy, “Sekarang selalu ada asap dari dapur.” Ungkapan sederhana ini menggambarkan meningkatnya ketahanan pangan sekaligus harapan baru bagi keluarga mereka.

Melalui kolaborasi, pendampingan yang konsisten, dan semangat belajar para petani, langkah-langkah kecil di lahan terus mendorong perubahan nyata bagi kehidupan keluarga petani di Papua.