Venus Dowansiba, seorang pemuda asli Pegunungan Arfak, Manokwari, Papua, memiliki karier sebagai PNS. Meskipun demikian, tekadnya yang kuat mendorongnya untuk menggerakkan pemuda terlibat aktif dalam dunia pertanian. Venus berupaya menginspirasi pemuda di sekitarnya agar lebih antusias dalam bercocok tanam, dengan harapan dapat membawa perubahan positif dalam kehidupan mereka.
Melalui pelatihan dan diskusi bersama Yayasan Bina Tani Sejahtera, ia dapat belajar dan menerapkan ilmu yang diperoleh di kebun miliknya. Keberhasilannya dalam meraih keuntungan dari usaha bertani menjadi bukti nyata. Meski Venus mengakui bahwa akibat bekerja di kebun, tangannya berubah menjadi kasar dan bengkak, namun semangatnya untuk terus menanam sayuran dan membantu petani lain untuk menjualkan hasil panen mereka tidak perna goyah.
Langkah Venus dalam memanfaatkan lahan pekarangan rumahnya seluas 200 m2 untuk menanam petsai dengan menerapkan praktik pertanian yang baik (GAP) menunjukkan bahwa bertani bisa dilakukan di berbagai tempat dan tidak harus selalu memerlukan lahan yang luas. Baginya, mencoba bertani pada luasan yang lebih kecil dapat memotivasi dirinya untuk berani bertani di lahan yang lebih luas. Keberhasilannya menjadi inspirasi bagi petani lain untuk menanam sayuran, meningkatkan penghasilan, dan memperbaiki kesejahteraan hidup mereka.
“Saya berharap, dengan apa yang saya lakukan ini dapat menginspirasi lebih banyak orang untuk terlibat dalam pertanian khususnya para generasi muda, sehingga dapat menciptakan masa