Kelompok Pemuda Suka Tani: Perjuangan Masih Panjang

Uploaded

Kelompok Pemuda Suka Tani: Perjuangan Masih Panjang

Kelompok Pemuda Suka Tani (KEPESTA) awalnya bertemu di tempat kebaktian. Oleh Pendeta Ari Wadu, mereka dikenalkan dengan Yayasan Bina Tani Sejahtera (YBTS).

“Tidak semua pemuda tertarik. Setelah pertemuan itu, saya diajak ke kelompok lain untuk belajar melihat bagaimana cara penanaman sayur,” ujar Onisimus Banu, Ketua Kelompok Kepesta (Kelompok Pemuda Suka Tani) yang merupakan lulusan S1 Administrasi saat ditemui di kebun kelompok.

Sebanyak 24 pemuda berusia 18-32 tahun dari Kelurahan Cendana belajar bertani di kebun milik Frans Nitsae. Kebun ini luasnya 1600 meter dan baru digarap pada awal 2019. Oni berkisah lima bulan pertama membuat kebun adalah pekerjaan yang paling berat. Semua dilakukan secara manual.

“Lihat sendiri jalan masuk kebun juga jalan setapak, tidak bisa dilewati “ kendaraan. Tapi kami saling bahu-membahu untuk mewujudkan kebun kami,” kata Oni, sapaan Onisimus.

Kondisi tanah dan air merupakan tantangan utama di sini. Tanah kebun tidak rata tanahnya, kontur tanahnya curam. Kondisi ini tak mengikis semangat para pemuda ini. Dibuatlah kebun dengan sistem terasering.

“Pada lahan yang sekarang ini lebih dekat dengan sumber air,” kata Oni sambil memperlihatkan penampungan air di lahan.

“Mulanya berkebun ini sambil menunggu pekerjaan lainnya. Untuk mengisi waktu kami lakukan dengan berkebun karena merupakan kegiatan positif. Jika sukses di sini, ke depan kami akan jadi petani,” jelas Oni.

“Jika dilihat dari hasil saat ini belum seberapa, tetapi kami telah mendapatkan banyak ilmu dari YBTS selama mendampingi kami.”

Saat ini, kelompok sedang menanam tomat, kangkung, terong, timun dan pepaya. Kedepan, mereka merencanakan menanam berbagai jenis sayuran.

Masih panjang perjalanan menjadi kelompok yang produktif ini dan menjadikannya sebagai masa depan. Yang dilakukan para pemuda ini adalah perjuangan merajut cita-cita.

Other Pengembangan Pemuda