{"id":872,"date":"2023-10-26T12:53:32","date_gmt":"2023-10-26T05:53:32","guid":{"rendered":"https:\/\/binatani.stagingapp.xyz\/enza-zaden-and-ybts-boost-young-farmers-in-obelio-village\/"},"modified":"2024-12-26T11:23:04","modified_gmt":"2024-12-26T04:23:04","slug":"enza-zaden-and-ybts-boost-young-farmers-in-obelio-village","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.binatani.or.id\/id\/enza-zaden-and-ybts-boost-young-farmers-in-obelio-village\/","title":{"rendered":"Berhenti Berpindah, Mulai Panen"},"content":{"rendered":"<p dir=\"ltr\">Mama Solvince dan Bapak Moses, sepasang petani di Kampung Kwau, Distrik Warmare, Kabupaten Manokwari, Papua, memiliki usia hampir mencapai 60 tahun. Pada awalnya, keduanya praktik bertani secara nomaden dengan berpindah tempat di atas gunung. Mereka tidak pernah mempertimbangkan untuk bercocok tanam di pekarangan rumah, meskipun pekarangan tersebut luas dan memiliki tanah yang subur.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Inspirasi datang saat mereka melihat praktik bertani yang sukses dari tetangga mereka yang telah menjadi petani binaan Yayasan Bina Tani Sejahtera. Melihat kesuksesan tetangganya menanam secara menatap di kebun mereka, Mama Solvince dan Bapak Moses mulai menerapkan praktik pertanian yang baik (good agricultural practices\/GAP) di area pekarangan mereka. Hasilnya, mereka berhasil panen tanaman seperti kangkung, cabai, bawang, sawi, dan buncis. Panen sayuran daun dari satu jenis tanaman saja menghasilkan keuntungan sekitar Rp 1.000.000 per bulan, jauh lebih besar dari pendapatan sebelumnya yang hanya Rp 350.000 per bulan.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-1998 size-large\" src=\"https:\/\/www.binatani.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/solvince-1024x722.png\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"451\" srcset=\"https:\/\/www.binatani.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/solvince-1024x722.png 1024w, https:\/\/www.binatani.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/solvince-300x212.png 300w, https:\/\/www.binatani.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/solvince-768x541.png 768w, https:\/\/www.binatani.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/solvince-1536x1083.png 1536w, https:\/\/www.binatani.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/solvince-140x99.png 140w, https:\/\/www.binatani.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/solvince-150x106.png 150w, https:\/\/www.binatani.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/solvince-732x516.png 732w, https:\/\/www.binatani.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/solvince-200x141.png 200w, https:\/\/www.binatani.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/solvince.png 2000w\" sizes=\"auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/p>\n<p dir=\"ltr\">Mama Solvince dan Bapak Moses merasa sangat bahagia dengan perubahan yang mereka lakukan. \u201cKami bersyukur karena berhasil meningkatkan hasil panen dan kualitas hidup dengan menerapkan praktik bertani yang baik (GAP) serta menanam sayuran di pekarangan rumah. Sekarang, kami tidak berpindah lagi dalam bertani,\u201d ungkap Mama Solvince dengan gembira.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mama Solvince dan Bapak Moses, sepasang petani di Kampung Kwau, Distrik Warmare, Kabupaten Manokwari, Papua, memiliki usia hampir mencapai 60 tahun. Pada awalnya, keduanya praktik bertani secara nomaden dengan berpindah tempat di atas gunung. Mereka tidak pernah mempertimbangkan untuk bercocok tanam di pekarangan rumah, meskipun pekarangan tersebut luas dan memiliki tanah yang subur. Inspirasi datang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2001,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"inline_featured_image":false,"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-872","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-transfer-pengetahuan"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.binatani.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/872","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.binatani.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.binatani.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.binatani.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.binatani.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=872"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/www.binatani.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/872\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2022,"href":"https:\/\/www.binatani.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/872\/revisions\/2022"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.binatani.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2001"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.binatani.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=872"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.binatani.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=872"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.binatani.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=872"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}