Dahulu, Andri Aswat merasa cukup dengan rutinitasnya sebagai tenaga honorer di kantor kecamatan. Baginya, bertani kelapa jauh lebih masuk akal karena tidak terlalu menguras tenaga fisik dibandingkan merawat sayuran yang rumit. Namun, pandangan itu berubah total saat ia memutuskan untuk bergabung dalam Program Alih Pengetahuan (Knowledge Transfer) yang didampingi oleh Yayasan Bina Tani Sejahtera (YBTS).
Melalui pendampingan teknis yang intensif dari tim lapangan YBTS, Andri mulai belajar dari nol mengenai praktik pertanian yang baik (Good Agricultural Practices/GAP). Kehadiran Technical Field Officer (TFO) YBTS di lahannya memastikan setiap tahapan dilakukan dengan teknik yang tepat. Di atas lahan yang ia kelola dengan standar GAP tersebut, Andri membuktikan bahwa metode modern mampu memberikan hasil panen yang jauh lebih stabil dan menguntungkan. Semangat perubahan ini kemudian ia perkuat dengan mendirikan kelompok tani bersama “Revolusi Tani”.
Lahan miliknya pun kini telah bertransformasi menjadi demplot pembelajaran bagi warga sekitar. Berkat ketekunan dan keberhasilannya mengelola kelompok tani tersebut, Andri kini dipercaya mengemban peran yang lebih besar sebagai Community Farmer Facilitator (CFF). Sebagai CFF, ia tidak lagi hanya bertani untuk diri sendiri, melainkan menjadi mentor yang bertugas menularkan standar teknis profesional kepada rekan-rekan petani lain di wilayahnya.
“Dulu saya pikir bertani sayur itu terlalu capek. Tapi setelah praktik langsung bareng YBTS, saya sadar ini bukan cuma kerja otot, tapi bisnis profesional yang hasilnya nyata,” ungkapnya.
Hasil dari dedikasi ini sangat membanggakan. Selain meraih pendapatan yang jauh melampaui gajinya terdahulu, dampak yang ia ciptakan telah meluas, bahkan standar teknis yang Andri kuasai ini telah terduplikasi kepada banyak keluarga petani lainnya di bawah bimbingannya.