Bina Tani Sejahtera

Bahasa id Indonesia

Para petani di Halmahera mulai meraup manfaat dari budidaya sayuran yang lebih baik

Para petani di Halmahera mulai meraup manfaat dari budidaya sayuran yang lebih baik

Kamis, 28 Mei 2015 00:00

Berdasarkan data Sensus Pertanian Tahun 2013, jumlah rumah tangga petani di Maluku Utara  sekitar 130.233, dengan persentase terbesar yaitu 65% berada di Halmahera (Selatan, Utara, Timur, Barat, Tengah). Dari Jumlah tersebut sebagian besar rumah tangga petani menggantungkan penghidupan (livehood) dari tanaman perkebunan, diantaranya kelapa. Sebanyak 93.291 rumah tangga petani di Maluku Utara atau 71% memiliki perkebunan kelapa dengan luas total lebih dari 130.000 hektar.

Sebagai contoh luas perkebunan kelapa di Halmahera Utara dan Halmahera Barat berturut-turut adalah 35.755 hektar dan 21.706 hektar. Dengan total produksi di Halmahera Utara dan Halmahera Barat  lebih dari 80.000 ton per tahun.

Berdasarkan observasi YBTS di lapangan, seringkali rumah tangga petani kekurangan uang cash/pendapatan untuk memenuhi kebutuhan keluarga karena kelapa/kopra hanya bisa dipanen 3-4 kali setahun. Jenis kelapa yang ditanam antara lain kelapa dalam dan kelapa hibrida. Dalam hal ini kelapa dalam lebih diminati karena masa panennya bisa mencapai puluhan tahun. Berdasarkan pengakuan petani dalam 1 hektar lahan (100-140 pohon) bisa menghasilkan sekitar 2 ton per tahun dengan penerimaan sekitar Rp 12.000.000/tahun. Hasil tersebut dibagi 2 dengan tenaga kerja yang mengambil buah kelapa yang berarti pendapatan petani hanya sekitar Rp 6.000.000/tahun.

Kami melihat peluang jenis tanaman sayuran yang beranekaragam dapat menjadi sumber tambahan pendapatan yang signifikan bagi para petani.  Dengan umur panen yang bervariasi mulai dari 3 minggu hingga 3-4 bulan, dan jika petani mau menanamnya di lahan pekarangan atau di sebagian lahan yang mereka miliki niscaya akan memberikan dampak positif dalam peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani. Kegiatan transfer teknologi yang dilakukan YBTS di desa Taman Buah, Kalipitu dan Gorua terbukti memberikan tambahan pendapatan bagi petani.  Inilah mereka yang meraih manfaat dari pendampingan teknis untuk budidaya sayuran yang lebih baik:

  • Ronny (35 tahun): Rp 3 juta dari jagung manis (panen pada 65 hari setelah tanam);
  • Munariah (29 tahun): Rp 900,000 dari kacang panjang (panen mulai 65 hari);
  • Anita Wote: mendapatkan untung Rp 4.12 juta dari budidaya tomat Betavila (panen mulai 85 hari);
  • Muri Mustofa (32 tahun): Rp 6 juta dari sawi hijau varietas Tosakan (panen 25 -30 hari);
  • Puguh Suratman (60 tahun): Rp 11.4 juta dari tomat (panen mulai 85 hari).

Peningkatan pendapatan tersebut diperoleh melalui hasil yang lebih tinggi, efisiensi pupuk dan pestisida. Dengan dampak yang positif diimbangi dengan respon yang positif dari petani diharapkan kegiatan transfer teknologi di Halmahera dapat berkelanjutan untuk mendampingi semakin banyak petani sehingga semakin banyak petani yang lebih sejahtera.

Ditulis oleh Arip Hermawan (YBTS Extension Officer, Halmahera, Maluku Utara)