Bina Tani Sejahtera

Bahasa id Indonesia

Labu Berpotensi Menjadi Pengganti Beras

Rabu, 08 Oktober 2014 00:00

http://www.pikiran-rakyat.com/node/300064


BOGOR, (PRLM).- Labu (Cucurbita Moschata) merupakan salah satu jenis buah berserat tinggi, bervitamin A dan C, pencegah penyakit degeneratif serta bisa menjadi pengganti beras dalam hal diversifikasi pangan. Sayangnya, labu tidak begitu populer dalam masyarakat kita.



Managing Director PT East West Seed Indonesia, Glenn Pardede Rabu (8/10/2014) di sela-sela Festival Labu Nusantara di Kampus Institut Pertanian Bogor Dramaga mengatakan budidaya labu bisa meningkatkan pendapatan petani, apalagi budidayanya cukup mudah.



Di Indonesia, penyebaran budidaya labu meliputi sebagian Jawa, Sumatera, Kalimantan, Lombok, dan Sulawesi. "Lokasinya baru spot-spot, belum sampai ke sentra," ujarnya.



Menurut Glenn, untuk labu varietas suprema bisa panen hingga 20 ton per hektar. Dengan harga jual sekitar Rp 2.000 per kilogram, petani diharapkan bisa mendapatkan hasil hingga Rp 40 juta dengan biaya produksi antara Rp 8 juta hingga Rp 10 juta per hektar.



Diakui Glenn, sampai saat ini konsumsi labu Indonesia masih sangat rendah. Jika dihitung dalam bibit yang disebar saja, dia baru menjual 1/4 dari jumlah bibit yang dijual ke Filipina.



Padahal, jumlah penduduk Filipina hanya 1/4 jumlah penduduk kita. "Jika asumsi konsumsi sayur kita hanya 40 kilogram/kapita/tahun, konsumsi lagu hanya 2 persen dari itu," kata Glenn.



Bahkan, bisa jadi masyarakat kita hanya makan labu sekitar 200-300 gram, itupun pada saat Ramadan. Saking belum berkembangnya pasaran labu, khusus untuk labu jenis madu pun bisa menembus harga Rp 100.000/kilogram. Padahal, harga normal labu per kilogram paling mahal hanya Rp 5.000.



"Labu ini bisa menjadi pengganti beras yang ideal. Apalagi di Indonesia bisa panen sepanjang tahun. Di Amerika Serikat saja yang hanya bisa panen sekali setahun konsumsinya mencapai 700 ribu ton/kapita/tahun," ucap Glenn.



Sementara itu, Guru Besar Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB, Anas D. Susila mengatakan kandungan nutrisi utama labu berasal dari antioksidan yang tinggi berupa senyawa betakaroten, vitamin A, dan C.



"Sejumlah penelitian juga menyebutkan labu berperan penting dalam mencegah penyakit degeneratif seperti diabetes melitus, penyempitan pembuluh darah, jantung koroner, tekanan darah tinggi, bahkan bisa mencegah kanker," ujar Anas.



Potensi paling besar yang bisa diambil dari labu, kata Anas yakni sebagai sumber karbohidrat. Labu, lanjut Anas bahkan sudah dikenal lama dalam peradaban manusia.



Menurut dia, budidaya pertama yang dilakukan manusia yakni labu. Dari ratusan jenis labu, hanya lima jenis yang dibudidayakan dengan berbagai variasi ukuran dan warna.



Meski berpotensi sebagai pengganti beras, labu tidak begitu populer di Indonesia. Salah satunya, lanjut Anas karena program diversifikasi pangan kita tidak berhasil.



Masyarakat di NTT yang mengkonsumsi jagung dan kacang-kacangan diminta beralih di beras. Demikian juga masyarakat Papua yang biasa mengkonsumsi sagu beralih ke beras.



"Akhirnya, sumber karbohidrat selain beras tidak populer. Salah satunya labu. Orang mengenalnya hanya sebagai buah untuk pelengkap kolak atau dibuat sayur," ucap Anas.



Padahal, budidaya labu relatif mudah karena bisa tumbuh di lahan kurang subur sekalipun.



Sementara, Rektor IPB Herry Suhardiyanto menambahkan selain bisa tumbuh di lahan manapun, konsumsi air untuk budidaya labu pun lebih sedikit. "Malahan, labu lebih banyak dipanen di musim kemarau," ujar Herry.



Hal ini menjadi perhatian IPB supaya ke depan praktik-praktik pertanian di lahan pangan tidak boros air. (Kismi Dwi Astuti/A-89)***